Here are some of the lunchboxes that I've made for CJ. They're not the best looking ones, but CJ still liked them anyway.
Rabu, 18 November 2015
Lunch Box
Berawal dari "kepelitan" saya, saat perayaan ultah ketiga CJ di sekolah Agustus lalu, danny dan saya sepakat untuk membuat sendiri souvenir ulang tahun berupa bentobox, milk pudding, dan chocolate brownie. Party favor juga saya design sendiri ( hitung - hitung melatih graphic design skill yang udah lama tak terpakai).
Sejak itu saya jadi tertarik untuk belajar membuat lunchbox ( bento) yang menarik untuk CJ. Hobi baru ini tentunya kemudian merembet ke arah cooking and baking. Lumayan lah..skill yang sudah mulai karatan jadi terpakai kembali.
Selain CJ jadi mau memakan bekalnya, merupakan kepuasan tersendiri juga bagi saya. Ternyata bikin lunchbox yang menarik itu gampang - gampang susah. Walaupun saya bukan expert, tapi CJ cukup suka dan excited dengan lunchbox mereka. Lunchbox ini juga yang akhirnya mengakhiri permohonan untuk bolos sekolah dari CJ.
CJ masih playgroup, mereka masuk 3x dalam seminggu dan khusus hari Jumat, pihak sekolah menyediakan makan siang. So..saya hanya perlu membuatkan lunchbox 2kali seminggu.
Danny ternyata tidak menentang hobi baru ini..dan dengan setia mendokumentasikan hasil karya saya setiap minggunya.
Berbekal bento tools yang super sederhana, setidaknya CJ jadi bisa tersenyum setiap kali membuka kotak makan siang mereka.
![]() |
| Bento untuk guru : ayam kalasan, mie goreng, kering tempe |
![]() |
| Bento untuk classmates: homemade chicken nuggets, salad, mie goreng |
Sejak itu saya jadi tertarik untuk belajar membuat lunchbox ( bento) yang menarik untuk CJ. Hobi baru ini tentunya kemudian merembet ke arah cooking and baking. Lumayan lah..skill yang sudah mulai karatan jadi terpakai kembali.
Selain CJ jadi mau memakan bekalnya, merupakan kepuasan tersendiri juga bagi saya. Ternyata bikin lunchbox yang menarik itu gampang - gampang susah. Walaupun saya bukan expert, tapi CJ cukup suka dan excited dengan lunchbox mereka. Lunchbox ini juga yang akhirnya mengakhiri permohonan untuk bolos sekolah dari CJ.
CJ masih playgroup, mereka masuk 3x dalam seminggu dan khusus hari Jumat, pihak sekolah menyediakan makan siang. So..saya hanya perlu membuatkan lunchbox 2kali seminggu.
Danny ternyata tidak menentang hobi baru ini..dan dengan setia mendokumentasikan hasil karya saya setiap minggunya.
Berbekal bento tools yang super sederhana, setidaknya CJ jadi bisa tersenyum setiap kali membuka kotak makan siang mereka.
![]() |
| one of my first bento boxes |
Rabu, 11 Juni 2014
Museum Angkut
Been a while juga ya nggak pernah posting tulisan lagi. Sejak
pindah tempat kerja, memang saya jadi tambah heboh mengatur waktu. Plus CJ yang
kini udah toddlers jadi demand more attention, so menulis untuk tujuan
relaksasi adalah sesuatu yang rada sulit dilakukan hehehehe…
Bulan April lalu, Danny akhirnya berhasil dibujuk untuk
liburan lagi. Walaupun seperti biasa, cuma sebatas liburan ke Batu – Malang
hehee..
Rencana awal sih pengennya ke Taman Safari – Prigen, tapi
saya dapat info dari temen kalo Jatim Park group menambah satu lokasi amusement
park lagi di Batu, namanya Museum Angkut dan Movie Star Studio. Menurut teman
saya, di Museum Angkut ini ada sampan yang bisa dinaikin sambil pura – pura
belanja. Wah asik juga nih… jadinya kami memutuskan untuk pergi ke Museum
Angkut aja. Keterangan lebih lanjut tentang Museum Angkut dan Movie Star Studia
bisa diliat di http://www.museumangkut.com
Karena mau sekalian menengok oma - omanya ( tante saya ) CJ
di Malang, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Malang aja. Kami pilih
hotel kecil di kawasan jalan Semeru karena rumah oma – oma CJ dekat dengan
daerah itu. (review tentang hotel di blog selanjutnya).
Kembali ke Museum Angkut, harga tiket masuknya 50rb, CJ
masih free karena tinggi badan mereka masih 85cm. Waktu kami tiba di Museum
Angkut, kami terkejut melihat banyaknya kendaraan yang ada di lapangan parkir,
mengingat hari itu adalah weekdays. Ternyata ada sekolah yang sedang mengajak
murid – muridnya field trip ke Museum Angkut.
Setelah ribet di pintu masuk, akhirnya kami berhasil juga
masuk ke Museum Angkut. Sesuai dengan namanya museum ini menampilkan berbagai
alat transportasi dari yang kuno hingga yang modern. Museum dibagi menjadi
beberapa zona berbeda: ada zona Betawi, zona Jerman, zona Inggris, zona
Perancis, dan Italy.
Sayang CJ sepertinya kurang menikmati Museum Angkut ini.
Mereka cuma senang naik kereta api gratis di zona Inggris. Jessie sempet
menangis waktu kami sekeluarga berfoto bersama patung Queen Elizabeth II.
Sayang juga saat berada disana hujan mengguyur kota Batu,
jadi kami nggak bisa berfoto outdoor. Belum lagi ada beberapa zona yang masih
under construction. Akhirnya sampailah kami di pintu keluar museum dan kamipun
berjalan menuju lokasi pasar apung nusantara. Untuk menikmati sampan, kami harus
membayar tiket sampan. Petugas mati – matian menyuruh CJ membayar full untuk
sampan ride-nya. Saya nawar, masak tiket masuk nggak perlu bayar, naik
sampan malah disuruh bayar full. Si Petugas akhirnya menyuruh CJ bayar 1 tiket untuk
2 orang. Danny yang malas ribut akhirnya menyetujuinya. Di depan kami sudah ada 2 kelompok yang
mengantri untuk naik sampan.
Satu jam hampir berlalu tapi tidak ada tanda –
tanda petugas sampan akan muncul untuk mendayung sampannya. Danny akhirnya
sebal juga. Apalagi ketika Danny bertanya pada petugas di loket karcis dan
jawaban petugas sungguh professional. “ Saya nggak tau kapan tukang sampannya
datang, mas. “. Lha kalo nggak tau datangnya jam berapa, kok berani jual tiket.
Lha kalo tukang sampannya baru datang jam 10 malam gimana ? Danny langsung
uring – uringan. Danny minta uang karcisnya dikembalikan. Petugas pada awalnya
menolak dan dengan ketus berkata, “ Nanti saya bantu jualkan ke orang lain aja,
mas. Soalnya kalo kembalikan uang tidak bisa.”
Hehehe.. Danny yang udah bête, kepanasan, dan kelaparan dijawab
begitu…meledaklah dia. Lima menit kemudian Danny dengan senyum penuh kemenangan
berhasil memperoleh uang karcisnya kembali.
Oh ya Museum Angkut juga mewajibkan pengunjung yang membawa
kamera untuk membayar extra fee ( nggak tau berapa). Saya sih motretnya pake
iPad
dan HP, udah lebih dari cukup ( intinya nggak mau keluar duit
extra hehehehe).
So far sih menurut kami, Museum Angkut & Movie Star
Studio cukup menarik untuk dikunjungi tetapi mungkin fasilitas dan kualitas
SDMnya masih perlu diperbaiki.
Selasa, 10 Juni 2014
The Weddings
Bulan lalu, ada 2 acara kawinan di keluarga besar si Danny (
kokonya si Danny dan sepupunya). Dua minggu berturut- turut. Saya dan Danny
udah diwanti – wanti oleh keluarga besar bahwa CJ harus ikut ke pemberkatan
maupun acara resepsi.
Muncul deh pertanyaan.. bajunya CJ ntar gimana ? Mama mertua
seperti biasa udah menawarkan untuk membuatkan kostum CJ. Tapi karena beliau sendiri juga super sibuk
menyiapkan acara wedding, akhirnya CJ cuma sempat dibuatkan masing – masing 1
dress.
Setelah berembug dengan Danny, diputuskan untuk acara resepsi
malam hari di pesta koko, CJ akan disewain gaun di bridal dekat rumah aja. Lalu
untuk acara kawinan si sepupu, CJ akan dibeliin gaun simple di department store
dekat rumah.
![]() | |
| Hasil sewa gaun di bridal deket rumah hehehe... |
Setelah keliling mall seharian dan mencoba beberapa dress,
akhirnya Danny sreg dengan dress warna kuning pucat dari kain tile, yang
untungnya ( thanks God ) lagi promo buy 1 get 1 free hehehe…senyum Dannypun
jadi kian lebar.
![]() |
| dress hasil buy 1 get 1 |
CJ cukup menikmati their first wedding parties. Mereka
menikmati jadi pusat perhatian tamu – tamu lainnya. Bahkan mereka tidak menolak
digendong beberapa orang. Berhubung CJ termasuk early sleepers, saat pengantin
masuk ruangan pesta jam 7 mereka udah mulai rewel. Celine masih bisa bertahan
sampai jam 8, tapi Jessie sudah pulas dari jam 7.30. Walaupun nggak makan hidangannya karena
mereka keburu ngantuk & bobok, CJ kayaknya cukup hepi ketemu banyak orang.
Maling Foto
Sebel…
Beberapa hari yang lalu saya di bbm ama temen. Dia menanyakan apa
stroller CJ mau dijual soalnya dia liat ada iklan yang menampilkan foto
stroller si CJ di tokobagus. Iseng - iseng saya cek deh di tokobagus.com, berikut nama
toko yang diinfokan oleh teman saya itu. Sempet shock sih, foto yang saya
posting di blog ini, yang semata – mata
saya gunakan untuk tujuan share info aja ternyata digunakan oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab untuk berjualan.
Anehnya kalau dia emang mau jual stroller bekasnya kenapa
nggak foto strollernya dia sendiri ya ?? kok pake foto strollernya CJ. wah…jangan – jangan….
Jadi takut dan was – was nih mau posting – posting foto
lagi..jangan – jangan nanti digunakan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung
jawab untuk melakukan tindakan – tindakan yang tidak bertanggung jawab.
![]() |
| ini dia ... |
So to set the records right....
Kedua stroller yang fotonya tercantum di iklan yang ditayangkan di tokobagus.com tidak dijual dan saya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan iklan yang dipasang. Berhati - hati sebelum membeli ya guys...
Selasa, 04 Februari 2014
Danny dan Virus Singapura
Karena selama 7 hari berturut - turut ( termasuk 2 hari minggu ) sebelum imlek Danny diwajibkan masuk kantor selama 13 jam oleh bosnya, otomatis Danny kecapekan dan mulai kena flu. Sayangnya, Danny termasuk tipe orang yang menyepelekan flu. Dia menolak diajak ke dokter dan cuma mengandalkan minum obat flu yang dijual bebas. Nggak heran setelah imlek selesai, Dannypun ambruk kecapekan.
Dimulai dengan demam yang lumayan, 38.5 derajat celcius pada hari Rabu. Seperti biasa, Danny menolak pergi ke dokter dan memilih istirahat di tempat tidur. Besoknya demamnya turun. Jadi Dannypun pergi bekerja seperti biasa. Malam harinya di kedua telapak tangannya mulai muncul bercak - bercak kecil kemerahan. Sayapun menduga, jangan - jangan Danny ketularan CJ. Danny tetap kekeuh menolak ke dokter. Pada Sabtu siang, bintik - bintik merah di telapak tangannya kian banyak dan jelas. Di telapak kakipun mulai bermunculan.
Saya sudah meminta supaya Danny mampir di UGD langsung setelah dari kantor, tetapi suami saya yang kepala batu menolak dan berdalih mau ke dokter langganannya saja di hari Senin. Ternyata pada malam harinya, Danny mulai cemas karena bintiknya yang kian banyak. Di sekitar mulut muncul dan ada yang pecah hingga cairannya mengucur ke bibir. Juga dia mulai kesulitan berjalan karena bintik - bintik di telapak kakinya kian banyak. Dannypun minta diantar ke UGD pada pukul 8 malam.
Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit besar tentunya tidak pernah sepi, dan malam itu entah kenapa banyak sekali pasien. Kami akhirnya dipersilahkan masuk ke ruang UGD pada pukul 10 malam. Danny diberikan obat anti nyeri untuk bintik - bintiknya.
Hari Senin saya memaksa Danny untuk pergi ke dokter internis langganan. Antriannya super panjang. Dua jam kemudian akhirnya kami berhasil duduk di meja praktek beliau. Dokter senior itu cuma mengerutkan dahi melihat totol - totol di telapak tangan Danny dan mengirim Danny ke dokter kulit yang prakteknya pas di seberang.
Dokter kulitnya masih muda, cantik, dan kesannya langsung shock melihat bintik - bintik di mulut, tangan, dan kaki si Danny. Waktu saya menyerahkan surat pengantar dari dokter UGD, dia meminta waktu sebentar untuk melihat buku daftar obat - obatan. Saya dan Danny berpandang - pandangan.. "nah lo...dapat dokter yang begini..."
Dokter cantik itu nggak meresepkan obat, dia cuma memberikan vitamin penambah daya tahan tubuh dan salep untuk telapak tangan dan kaki. Dokternya kesannya agak buru - buru waktu menjelaskan pada kami, jadi kamipun agak malas nanya - nanya lebih lanjut.
Puji Tuhan, so far sih Danny merasa enakan dan bintik - bintiknya mulai mengering.
PS: Foto tangan dan kaki Danny sengaja nggak saya posting, mengingat bener - bener bikin orang yang liat nggak enak makan hehehe...
Dimulai dengan demam yang lumayan, 38.5 derajat celcius pada hari Rabu. Seperti biasa, Danny menolak pergi ke dokter dan memilih istirahat di tempat tidur. Besoknya demamnya turun. Jadi Dannypun pergi bekerja seperti biasa. Malam harinya di kedua telapak tangannya mulai muncul bercak - bercak kecil kemerahan. Sayapun menduga, jangan - jangan Danny ketularan CJ. Danny tetap kekeuh menolak ke dokter. Pada Sabtu siang, bintik - bintik merah di telapak tangannya kian banyak dan jelas. Di telapak kakipun mulai bermunculan.
Saya sudah meminta supaya Danny mampir di UGD langsung setelah dari kantor, tetapi suami saya yang kepala batu menolak dan berdalih mau ke dokter langganannya saja di hari Senin. Ternyata pada malam harinya, Danny mulai cemas karena bintiknya yang kian banyak. Di sekitar mulut muncul dan ada yang pecah hingga cairannya mengucur ke bibir. Juga dia mulai kesulitan berjalan karena bintik - bintik di telapak kakinya kian banyak. Dannypun minta diantar ke UGD pada pukul 8 malam.
Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit besar tentunya tidak pernah sepi, dan malam itu entah kenapa banyak sekali pasien. Kami akhirnya dipersilahkan masuk ke ruang UGD pada pukul 10 malam. Danny diberikan obat anti nyeri untuk bintik - bintiknya.
Hari Senin saya memaksa Danny untuk pergi ke dokter internis langganan. Antriannya super panjang. Dua jam kemudian akhirnya kami berhasil duduk di meja praktek beliau. Dokter senior itu cuma mengerutkan dahi melihat totol - totol di telapak tangan Danny dan mengirim Danny ke dokter kulit yang prakteknya pas di seberang.
Dokter kulitnya masih muda, cantik, dan kesannya langsung shock melihat bintik - bintik di mulut, tangan, dan kaki si Danny. Waktu saya menyerahkan surat pengantar dari dokter UGD, dia meminta waktu sebentar untuk melihat buku daftar obat - obatan. Saya dan Danny berpandang - pandangan.. "nah lo...dapat dokter yang begini..."
Dokter cantik itu nggak meresepkan obat, dia cuma memberikan vitamin penambah daya tahan tubuh dan salep untuk telapak tangan dan kaki. Dokternya kesannya agak buru - buru waktu menjelaskan pada kami, jadi kamipun agak malas nanya - nanya lebih lanjut.
Puji Tuhan, so far sih Danny merasa enakan dan bintik - bintiknya mulai mengering.
PS: Foto tangan dan kaki Danny sengaja nggak saya posting, mengingat bener - bener bikin orang yang liat nggak enak makan hehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)














