Karena selama 7 hari berturut - turut ( termasuk 2 hari minggu ) sebelum imlek Danny diwajibkan masuk kantor selama 13 jam oleh bosnya, otomatis Danny kecapekan dan mulai kena flu. Sayangnya, Danny termasuk tipe orang yang menyepelekan flu. Dia menolak diajak ke dokter dan cuma mengandalkan minum obat flu yang dijual bebas. Nggak heran setelah imlek selesai, Dannypun ambruk kecapekan.
Dimulai dengan demam yang lumayan, 38.5 derajat celcius pada hari Rabu. Seperti biasa, Danny menolak pergi ke dokter dan memilih istirahat di tempat tidur. Besoknya demamnya turun. Jadi Dannypun pergi bekerja seperti biasa. Malam harinya di kedua telapak tangannya mulai muncul bercak - bercak kecil kemerahan. Sayapun menduga, jangan - jangan Danny ketularan CJ. Danny tetap kekeuh menolak ke dokter. Pada Sabtu siang, bintik - bintik merah di telapak tangannya kian banyak dan jelas. Di telapak kakipun mulai bermunculan.
Saya sudah meminta supaya Danny mampir di UGD langsung setelah dari kantor, tetapi suami saya yang kepala batu menolak dan berdalih mau ke dokter langganannya saja di hari Senin. Ternyata pada malam harinya, Danny mulai cemas karena bintiknya yang kian banyak. Di sekitar mulut muncul dan ada yang pecah hingga cairannya mengucur ke bibir. Juga dia mulai kesulitan berjalan karena bintik - bintik di telapak kakinya kian banyak. Dannypun minta diantar ke UGD pada pukul 8 malam.
Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit besar tentunya tidak pernah sepi, dan malam itu entah kenapa banyak sekali pasien. Kami akhirnya dipersilahkan masuk ke ruang UGD pada pukul 10 malam. Danny diberikan obat anti nyeri untuk bintik - bintiknya.
Hari Senin saya memaksa Danny untuk pergi ke dokter internis langganan. Antriannya super panjang. Dua jam kemudian akhirnya kami berhasil duduk di meja praktek beliau. Dokter senior itu cuma mengerutkan dahi melihat totol - totol di telapak tangan Danny dan mengirim Danny ke dokter kulit yang prakteknya pas di seberang.
Dokter kulitnya masih muda, cantik, dan kesannya langsung shock melihat bintik - bintik di mulut, tangan, dan kaki si Danny. Waktu saya menyerahkan surat pengantar dari dokter UGD, dia meminta waktu sebentar untuk melihat buku daftar obat - obatan. Saya dan Danny berpandang - pandangan.. "nah lo...dapat dokter yang begini..."
Dokter cantik itu nggak meresepkan obat, dia cuma memberikan vitamin penambah daya tahan tubuh dan salep untuk telapak tangan dan kaki. Dokternya kesannya agak buru - buru waktu menjelaskan pada kami, jadi kamipun agak malas nanya - nanya lebih lanjut.
Puji Tuhan, so far sih Danny merasa enakan dan bintik - bintiknya mulai mengering.
PS: Foto tangan dan kaki Danny sengaja nggak saya posting, mengingat bener - bener bikin orang yang liat nggak enak makan hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar