Been a while juga ya nggak pernah posting tulisan lagi. Sejak
pindah tempat kerja, memang saya jadi tambah heboh mengatur waktu. Plus CJ yang
kini udah toddlers jadi demand more attention, so menulis untuk tujuan
relaksasi adalah sesuatu yang rada sulit dilakukan hehehehe…
Bulan April lalu, Danny akhirnya berhasil dibujuk untuk
liburan lagi. Walaupun seperti biasa, cuma sebatas liburan ke Batu – Malang
hehee..
Rencana awal sih pengennya ke Taman Safari – Prigen, tapi
saya dapat info dari temen kalo Jatim Park group menambah satu lokasi amusement
park lagi di Batu, namanya Museum Angkut dan Movie Star Studio. Menurut teman
saya, di Museum Angkut ini ada sampan yang bisa dinaikin sambil pura – pura
belanja. Wah asik juga nih… jadinya kami memutuskan untuk pergi ke Museum
Angkut aja. Keterangan lebih lanjut tentang Museum Angkut dan Movie Star Studia
bisa diliat di http://www.museumangkut.com
Karena mau sekalian menengok oma - omanya ( tante saya ) CJ
di Malang, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Malang aja. Kami pilih
hotel kecil di kawasan jalan Semeru karena rumah oma – oma CJ dekat dengan
daerah itu. (review tentang hotel di blog selanjutnya).
Kembali ke Museum Angkut, harga tiket masuknya 50rb, CJ
masih free karena tinggi badan mereka masih 85cm. Waktu kami tiba di Museum
Angkut, kami terkejut melihat banyaknya kendaraan yang ada di lapangan parkir,
mengingat hari itu adalah weekdays. Ternyata ada sekolah yang sedang mengajak
murid – muridnya field trip ke Museum Angkut.
Setelah ribet di pintu masuk, akhirnya kami berhasil juga
masuk ke Museum Angkut. Sesuai dengan namanya museum ini menampilkan berbagai
alat transportasi dari yang kuno hingga yang modern. Museum dibagi menjadi
beberapa zona berbeda: ada zona Betawi, zona Jerman, zona Inggris, zona
Perancis, dan Italy.
Sayang CJ sepertinya kurang menikmati Museum Angkut ini.
Mereka cuma senang naik kereta api gratis di zona Inggris. Jessie sempet
menangis waktu kami sekeluarga berfoto bersama patung Queen Elizabeth II.
Sayang juga saat berada disana hujan mengguyur kota Batu,
jadi kami nggak bisa berfoto outdoor. Belum lagi ada beberapa zona yang masih
under construction. Akhirnya sampailah kami di pintu keluar museum dan kamipun
berjalan menuju lokasi pasar apung nusantara. Untuk menikmati sampan, kami harus
membayar tiket sampan. Petugas mati – matian menyuruh CJ membayar full untuk
sampan ride-nya. Saya nawar, masak tiket masuk nggak perlu bayar, naik
sampan malah disuruh bayar full. Si Petugas akhirnya menyuruh CJ bayar 1 tiket untuk
2 orang. Danny yang malas ribut akhirnya menyetujuinya. Di depan kami sudah ada 2 kelompok yang
mengantri untuk naik sampan.
Satu jam hampir berlalu tapi tidak ada tanda –
tanda petugas sampan akan muncul untuk mendayung sampannya. Danny akhirnya
sebal juga. Apalagi ketika Danny bertanya pada petugas di loket karcis dan
jawaban petugas sungguh professional. “ Saya nggak tau kapan tukang sampannya
datang, mas. “. Lha kalo nggak tau datangnya jam berapa, kok berani jual tiket.
Lha kalo tukang sampannya baru datang jam 10 malam gimana ? Danny langsung
uring – uringan. Danny minta uang karcisnya dikembalikan. Petugas pada awalnya
menolak dan dengan ketus berkata, “ Nanti saya bantu jualkan ke orang lain aja,
mas. Soalnya kalo kembalikan uang tidak bisa.”
Hehehe.. Danny yang udah bête, kepanasan, dan kelaparan dijawab
begitu…meledaklah dia. Lima menit kemudian Danny dengan senyum penuh kemenangan
berhasil memperoleh uang karcisnya kembali.
Oh ya Museum Angkut juga mewajibkan pengunjung yang membawa
kamera untuk membayar extra fee ( nggak tau berapa). Saya sih motretnya pake
iPad
dan HP, udah lebih dari cukup ( intinya nggak mau keluar duit
extra hehehehe).
So far sih menurut kami, Museum Angkut & Movie Star
Studio cukup menarik untuk dikunjungi tetapi mungkin fasilitas dan kualitas
SDMnya masih perlu diperbaiki.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar