Minggu, 13 Desember 2015

Temper Tantrum(s)


The tantrum episode begins..
Jessie akhir – akhir ini sering sekali “bertingkah” ( well, Celine juga sih.. tapi tidak seintens dan sesering Jessie). Jika kemauannya tidak dituruti sedikit saja, dia akan mulai merengek dan menghentak – hentakkan kaki, dan buntut-buntutnya menangis, berteriak – teriak, memukul, berguling – guling di lantai, menendang, bahkan melempar barang. Temper tantrum ini terjadi hampir setiap hari dan bisa berlangsung hingga 30 menit atau malah lebih. Tidak jarang tantrum ini terjadi saat tengah malam. Kebayang kan gimana capenya ngediemin si Jessie…

Tak jarang emosipun terpancing, mulai dari ikut berteriak bahkan sempat memukul tangan kecilnya ( yeah… I’m not proud of myself because of my actions). Sempet juga mengalami masa – masa merasa bahwa kami adalah bad parents, nggak becus urus anak, dan aneka pikiran – pikiran negative lainnya.

Setelah membekali diri dengan info dari sesama strunggling parents dan tentunya Om Gugel, saya dan Danny sepakat untuk berjuang melawan temper tantrum ini.  

Saya dan Danny sudah sepakat untuk “mengabaikan” Jessie saat sedang “mengekspresikan” kemarahannya. Kami sudah belajar bahwa semakin kami membujuk dia, semakin keras juga Jessie akan meraung. Kami berusaha “menulikan” telinga saat Jessie berteriak – teriak dan berguling – guling di lantai. Kami hanya berusaha menyingkirkan benda – benda yang bisa dilempar dari sekitarnya. Celine juga sepertinya sudah belajar untuk mengabaikan Jessie saat dia mengalami tantrum. Beberapa kali saat Jessie “ngamuk” di tengah malam, Celine terbangun sejenak lalu bertanya pada saya, “Mama, eci bad lagi ya?” Saya hanya bisa tersenyum lalu menyuruhnya tidur lagi. Untungnya Celine nurut dan mau tidur lagi. Sejak saat itu jika dia malam – malam terbangun karena teriakan Jessie, Celine udah terbiasa untuk langsung tidur kembali.

ngambek
Teriakan – teriakan Jessie yang memilukan hati sekaligus bikin kuping panas dengan sekuat
tenaga kami abaikan. Tendangan – tendangan di tembok dan hentakan – hentakan kaki di lantai tidak kami gubris. Sayangnya tekad baja kami ini tidak didukung oleh emak CJ. Mama saya selalu saja datang menyelamatkan cucu tercintanya dan memberikan apa yang diminta. Tak heran usaha kami selalu gagal total.

Sudah puluhan kali kami coba memberikan pengertian pada Mama tentang akibat tindakannya pada pertumbuhan emosi Jessie. Bukannya mengerti, Mama saya malah emosi dan menyuruh kami membawa Jessie kecil ke psikiater. Repotnya ngomong ama orang tua hiks…

Well, dari beberapa artikel yang kami baca mengenai toddler tantrums (list ntar nyusul di bawah), sepertinya temper tantrum ini memang merupakan tahapan normal dalam tubuh kembang anak… hadeh…

Beberapa tips sangat berguna dan mudah diterapkan. Kadang berhasil, kadang juga tidak… tergantung tingkat kerewelan dan kemarahan. Beberapa kali Jessie berhasil dialihkan perhatiannya ke hal lain, seperti diajak nonton acara TV kesukaannya atau bahkan diberi iming – iming coklat. Hingga petang hari inipun kami masih berjuang melawan tantrum Jessie. Tadi Jessie menolak untuk gosok gigi sebelum tidur. Saya membujuknya “ Kalau Jessie tidak sikat gigi, nanti giginya jadi berlubang.” Diapun mulai menangis, merengek “ Nggak mau sikat gigi, nggak mau gigi bolong. Biar papa aja yang giginya bolong.”  Mau nggak mau ketawa juga denger jawabannya…

Yeah… sepertinya kami emang masih harus belajar lebih banyak lagi dalam menghadapi si temper tantrum.

Eniwei, further pembahasan tentang temper tantrum pada balita menyusul di blog selanjutnya ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar