![]() |
| The tantrum episode begins.. |
Jessie akhir – akhir ini sering sekali “bertingkah” ( well,
Celine juga sih.. tapi tidak seintens dan sesering Jessie). Jika kemauannya
tidak dituruti sedikit saja, dia akan mulai merengek dan menghentak – hentakkan
kaki, dan buntut-buntutnya menangis, berteriak – teriak, memukul, berguling –
guling di lantai, menendang, bahkan melempar barang. Temper tantrum ini terjadi
hampir setiap hari dan bisa berlangsung hingga 30 menit atau malah lebih. Tidak
jarang tantrum ini terjadi saat tengah malam. Kebayang kan gimana capenya
ngediemin si Jessie…
Tak
jarang emosipun terpancing, mulai dari ikut berteriak bahkan sempat memukul
tangan kecilnya ( yeah… I’m not proud of myself because of my actions). Sempet
juga mengalami masa – masa merasa bahwa kami adalah bad parents, nggak becus
urus anak, dan aneka pikiran – pikiran negative lainnya.
Setelah
membekali diri dengan info dari sesama strunggling parents dan tentunya Om
Gugel, saya dan Danny sepakat untuk berjuang melawan temper tantrum ini.
Saya dan Danny sudah sepakat untuk “mengabaikan” Jessie saat
sedang “mengekspresikan” kemarahannya. Kami sudah belajar bahwa semakin kami
membujuk dia, semakin keras juga Jessie akan meraung. Kami berusaha “menulikan”
telinga saat Jessie berteriak – teriak dan berguling – guling di lantai. Kami
hanya berusaha menyingkirkan benda – benda yang bisa dilempar dari sekitarnya. Celine
juga sepertinya sudah belajar untuk mengabaikan Jessie saat dia mengalami
tantrum. Beberapa kali saat Jessie “ngamuk” di tengah malam, Celine terbangun
sejenak lalu bertanya pada saya, “Mama, eci bad lagi ya?” Saya hanya bisa
tersenyum lalu menyuruhnya tidur lagi. Untungnya Celine nurut dan mau tidur
lagi. Sejak saat itu jika dia malam – malam terbangun karena teriakan Jessie,
Celine udah terbiasa untuk langsung tidur kembali.
![]() |
| ngambek |
Teriakan – teriakan Jessie yang memilukan hati sekaligus
bikin kuping panas dengan sekuat
tenaga kami abaikan. Tendangan – tendangan di
tembok dan hentakan – hentakan kaki di lantai tidak kami gubris. Sayangnya
tekad baja kami ini tidak didukung oleh emak CJ. Mama saya selalu saja datang
menyelamatkan cucu tercintanya dan memberikan apa yang diminta. Tak heran usaha
kami selalu gagal total.
Sudah puluhan kali kami coba memberikan pengertian pada Mama
tentang akibat tindakannya pada pertumbuhan emosi Jessie. Bukannya mengerti,
Mama saya malah emosi dan menyuruh kami membawa Jessie kecil ke psikiater. Repotnya
ngomong ama orang tua hiks…
Well, dari beberapa artikel yang kami baca mengenai toddler
tantrums (list ntar nyusul di bawah), sepertinya temper tantrum ini memang
merupakan tahapan normal dalam tubuh kembang anak… hadeh…
Beberapa tips sangat berguna dan mudah diterapkan. Kadang
berhasil, kadang juga tidak… tergantung tingkat kerewelan dan kemarahan.
Beberapa kali Jessie berhasil dialihkan perhatiannya ke hal lain, seperti
diajak nonton acara TV kesukaannya atau bahkan diberi iming – iming coklat.
Hingga petang hari inipun kami masih berjuang melawan tantrum Jessie. Tadi
Jessie menolak untuk gosok gigi sebelum tidur. Saya membujuknya “ Kalau Jessie
tidak sikat gigi, nanti giginya jadi berlubang.” Diapun mulai menangis,
merengek “ Nggak mau sikat gigi, nggak mau gigi bolong. Biar papa aja yang
giginya bolong.” Mau nggak mau ketawa
juga denger jawabannya…
Yeah… sepertinya kami emang masih harus belajar lebih banyak
lagi dalam menghadapi si temper tantrum.
Eniwei, further pembahasan tentang temper tantrum pada balita menyusul di blog selanjutnya ya..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar