What is a Tantrum ?
Tantrum adalah ledakan emosi pada anak,biasanya berupa
kemarahan, karena anak belum mampu mengungkapkan emosi mereka dalam kata – kata
dengan baik.
Who experience Temper
Tantrum?
Biasa terjadi pada anak usia balita.
What should I expect
when a toddler throws tantrums?
Well, pada kasus Jessie.. yang paling sering terjadi adalah
menangis, berteriak, melempar barang, berguling – guling di lantai. Terkadang
bahkan dia mengigit, memukul, menghentak – hentakkan kaki dan mencubit orang
lain yang membuatnya kesal.
Serangan tantrum ini umumnya terjadi beberapa menit - yang
serasa berjam – jam, tetapi tidak jarang
terjadi cukup lama ( tergantung dari penyebab tantrum).
Why do toddlers throw
Temper Tantrums?
Seperti yang sudah saya sebutkan di post sebelumnya, temper
tantrum adalah reaksi yang sangat normal pada balita. Ini disebabkan karena
balita belum mampu meluapkan emosi dengan baik.
Balita kadang masih cukup asing dengan konsep bersabar. Jika
mereka menginginkan sesuatu, mereka ingin supaya keinginannya segera dipenuhi
saat itu juga. Saat keinginan mereka tidak dipenuhi, terbentuklah rasa
frustasi. Tantrum merupakan expresi kemarahan dan rasa frustrasi mereka. Do
expect your toddler to have temper tantrums until they are about 5 years old,
when they are able to express their emotions and anger in words better.
What caused Temper
Tantrums?
Banyak hal bisa menjadi penyebab temper tantrum pada anak.
Yang paling umum adalah sebagai berikut :
- Capek / mengantuk, ini nih biasanya biang keladi utama pada tantrumnya Jessie.
- Tidak mendapatkan apa yang diinginkan mainan, permen, extra TV time, ikut ke kantor, nyuruh mamanya nemenin dia di rumah seharian, dia yang nggak gosok gigi tapi gigi papanya yang berlubang hehehe…
- Bosan , sometimes kalo anak nggak ada kerjaan, dia akan demand extra attention dan biasanya kalo nggak diturutin terjadilah si ledakan emosi.
- Lapar feed your child on time hehehe… suatu hari dalam perjalanan dari Surabaya ke Batu ; karena traffic lagi jelek, kami terjebak di jalan dan situasinya kurang memungkinkan untuk membelikan CJ makanan. CJ “menyanyi” sepanjang perjalanan dan baru berhenti setelah dibelikan biscuit.
- Si anak dari sononya emang emosional. Sepertinya Jessie emosinya emang lebih meledak – ledak dibandingkan Celine yang lebih kalem. Jika Danny atau saya sudah melarang dengan kata “tidak”, Jessie cenderung merengek. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya ke luar melalui kemarahan alias tantrum.
What should I do
during the tantrum?
·
Stay calm !!! Stay calm !!! and stay even calmer
!!!
Tidak ada gunanya ikut emosi terbawa kondisi. Kalau anak
sedang meledak – ledak, bukannya tidak mungkin emosi anda akan terpancing … speaking
from experience nih…. Semakin anda marah, semakin kencang pulalah anak
berteriak. Janganlah memukul atau memakinya. Selain nggak mempan dalam
mengatasi tantrum, anda yang akan merasa menyesal dan bersalah sendiri nanti.
·
Coba peluklah dan tenangkan dia
Easy to say, almost pretty impossible to do karena sudah
pasti anak akan menghadiahi anda dengan tinjuan dan tendangan maut hehehe..
Beberapa kali Danny mencoba cara ini, kadang berhasil kadang tidak.
·
Abaikan dia
So far ini adalah cara favorit saya. Berpura – puralah anda
tidak memperhatikan dia. Sekeras apapun dia berteriak, tulikanlah telinga anda.
Berpura – puralah bahwa dia tidak ada di ruangan itu. Yang penting tetap awasi
dia tanpa bereaksi pada amukannya. Juga tak kalah penting, singkirkan benda –
benda yang bisa mencederai dari sekitar anak. Kalau anak merasa bahwa tidak ada
yang memperhatikannya, dia akan berhenti menjerit – jerit. Mintalah kerja sama
seisi rumah karena cara ini akan useless kalau hanya anda seorang yang
melakukannya.
·
Alihkan perhatiannya
Ajaklah dia bercanda, tertawa, atau melakukan aktivitas
lainnya. Celine suka dibacakan cerita dari buku dongeng, saat dia marah
biasanya saya ajak dia memilih buku untuk dibacakan cerita. Biasanya dia akan
menurut dan lupa marah.
What should I do
after the storm is over ?
Talk and explain !
Jelaskan pada anak bahwa anda sangat menyayanginya tetapi
apa yang dia lakukan tadi tidak baik. Sadarkan anak bahwa
tantrum adalah cara komunikasi yang tidak dapat diterima. Ada cara lain untuk
memberitahukan apa yang dia inginkan kepada orang lain. Ajarilah cara
mengekspresikan kemarahannya pada orang lain melalui kata – kata.
All
in all
Memang temper tantrum adalah tahapan
normal pada perkembangan anak tapi bukan berarti ini adalah sesuatu yang
harus didiamkan. Merupakan kewajiban kita sebagai ortu untuk menuntun anak
melalui fase ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar