Senin, 14 Desember 2015

Temper Tantrum 101

What is a Tantrum ?
Tantrum adalah ledakan emosi pada anak,biasanya berupa kemarahan, karena anak belum mampu mengungkapkan emosi mereka dalam kata – kata dengan baik.

Who experience Temper Tantrum?
Biasa terjadi pada anak usia balita.

What should I expect when a toddler throws tantrums?
Well, pada kasus Jessie.. yang paling sering terjadi adalah menangis, berteriak, melempar barang, berguling – guling di lantai. Terkadang bahkan dia mengigit, memukul, menghentak – hentakkan kaki dan mencubit orang lain yang membuatnya kesal.

Serangan tantrum ini umumnya terjadi beberapa menit - yang serasa berjam – jam,  tetapi tidak jarang terjadi cukup lama ( tergantung dari penyebab tantrum).

Why do toddlers throw Temper Tantrums?
Seperti yang sudah saya sebutkan di post sebelumnya, temper tantrum adalah reaksi yang sangat normal pada balita. Ini disebabkan karena balita belum mampu meluapkan emosi dengan baik.
Balita kadang masih cukup asing dengan konsep bersabar. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka ingin supaya keinginannya segera dipenuhi saat itu juga. Saat keinginan mereka tidak dipenuhi, terbentuklah rasa frustasi. Tantrum merupakan expresi kemarahan dan rasa frustrasi mereka. Do expect your toddler to have temper tantrums until they are about 5 years old, when they are able to express their emotions and anger in words better.

What caused Temper Tantrums?
Banyak hal bisa menjadi penyebab temper tantrum pada anak. Yang paling umum adalah sebagai berikut :
  • Capek / mengantuk, ini nih biasanya biang keladi utama pada tantrumnya Jessie.
  • Tidak mendapatkan apa yang diinginkan  mainan, permen, extra TV time, ikut ke kantor, nyuruh mamanya nemenin dia di rumah seharian, dia yang nggak gosok gigi tapi gigi papanya yang berlubang hehehe…
  • Bosan , sometimes kalo anak nggak ada kerjaan, dia akan demand extra attention dan biasanya kalo nggak diturutin terjadilah si ledakan emosi.
  • Lapar feed your child on time hehehe… suatu hari dalam perjalanan dari Surabaya ke Batu ; karena traffic lagi jelek, kami terjebak di jalan dan situasinya kurang memungkinkan untuk membelikan CJ makanan. CJ “menyanyi” sepanjang perjalanan dan baru berhenti setelah dibelikan biscuit.
  • Si anak dari sononya emang emosional. Sepertinya Jessie emosinya emang lebih meledak – ledak dibandingkan Celine yang lebih kalem. Jika Danny atau saya sudah melarang dengan kata “tidak”, Jessie cenderung merengek. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya ke luar melalui kemarahan alias tantrum.

What should I do during the tantrum?
·      Stay calm !!! Stay calm !!! and stay even calmer !!!
Tidak ada gunanya ikut emosi terbawa kondisi. Kalau anak sedang meledak – ledak, bukannya tidak mungkin emosi anda akan terpancing … speaking from experience nih…. Semakin anda marah, semakin kencang pulalah anak berteriak. Janganlah memukul atau memakinya. Selain nggak mempan dalam mengatasi tantrum, anda yang akan merasa menyesal dan bersalah sendiri nanti.

·      Coba peluklah dan tenangkan dia
Easy to say, almost pretty impossible to do karena sudah pasti anak akan menghadiahi anda dengan tinjuan dan tendangan maut hehehe.. Beberapa kali Danny mencoba cara ini, kadang berhasil kadang tidak.

·      Abaikan dia
So far ini adalah cara favorit saya. Berpura – puralah anda tidak memperhatikan dia. Sekeras apapun dia berteriak, tulikanlah telinga anda. Berpura – puralah bahwa dia tidak ada di ruangan itu. Yang penting tetap awasi dia tanpa bereaksi pada amukannya. Juga tak kalah penting, singkirkan benda – benda yang bisa mencederai dari sekitar anak. Kalau anak merasa bahwa tidak ada yang memperhatikannya, dia akan berhenti menjerit – jerit. Mintalah kerja sama seisi rumah karena cara ini akan useless kalau hanya anda seorang yang melakukannya.

·      Alihkan perhatiannya
Ajaklah dia bercanda, tertawa, atau melakukan aktivitas lainnya. Celine suka dibacakan cerita dari buku dongeng, saat dia marah biasanya saya ajak dia memilih buku untuk dibacakan cerita. Biasanya dia akan menurut dan lupa marah.


What should I do after the storm is over ?
Talk and explain !
Jelaskan pada anak bahwa anda sangat menyayanginya tetapi apa yang dia lakukan tadi tidak baik. Sadarkan anak bahwa tantrum adalah cara komunikasi yang tidak dapat diterima. Ada cara lain untuk memberitahukan apa yang dia inginkan kepada orang lain. Ajarilah cara mengekspresikan kemarahannya pada orang lain melalui kata – kata.

All in all
Memang temper tantrum adalah tahapan normal pada perkembangan anak tapi bukan berarti ini adalah sesuatu yang harus didiamkan. Merupakan kewajiban kita sebagai ortu untuk menuntun anak melalui fase ini.

Sumbernya :


https://nurkayat.wordpress.com/psikologi/temper-tantrum-pada-anak-tiba-tiba-mar

Minggu, 13 Desember 2015

Temper Tantrum(s)


The tantrum episode begins..
Jessie akhir – akhir ini sering sekali “bertingkah” ( well, Celine juga sih.. tapi tidak seintens dan sesering Jessie). Jika kemauannya tidak dituruti sedikit saja, dia akan mulai merengek dan menghentak – hentakkan kaki, dan buntut-buntutnya menangis, berteriak – teriak, memukul, berguling – guling di lantai, menendang, bahkan melempar barang. Temper tantrum ini terjadi hampir setiap hari dan bisa berlangsung hingga 30 menit atau malah lebih. Tidak jarang tantrum ini terjadi saat tengah malam. Kebayang kan gimana capenya ngediemin si Jessie…

Tak jarang emosipun terpancing, mulai dari ikut berteriak bahkan sempat memukul tangan kecilnya ( yeah… I’m not proud of myself because of my actions). Sempet juga mengalami masa – masa merasa bahwa kami adalah bad parents, nggak becus urus anak, dan aneka pikiran – pikiran negative lainnya.

Setelah membekali diri dengan info dari sesama strunggling parents dan tentunya Om Gugel, saya dan Danny sepakat untuk berjuang melawan temper tantrum ini.  

Saya dan Danny sudah sepakat untuk “mengabaikan” Jessie saat sedang “mengekspresikan” kemarahannya. Kami sudah belajar bahwa semakin kami membujuk dia, semakin keras juga Jessie akan meraung. Kami berusaha “menulikan” telinga saat Jessie berteriak – teriak dan berguling – guling di lantai. Kami hanya berusaha menyingkirkan benda – benda yang bisa dilempar dari sekitarnya. Celine juga sepertinya sudah belajar untuk mengabaikan Jessie saat dia mengalami tantrum. Beberapa kali saat Jessie “ngamuk” di tengah malam, Celine terbangun sejenak lalu bertanya pada saya, “Mama, eci bad lagi ya?” Saya hanya bisa tersenyum lalu menyuruhnya tidur lagi. Untungnya Celine nurut dan mau tidur lagi. Sejak saat itu jika dia malam – malam terbangun karena teriakan Jessie, Celine udah terbiasa untuk langsung tidur kembali.

ngambek
Teriakan – teriakan Jessie yang memilukan hati sekaligus bikin kuping panas dengan sekuat
tenaga kami abaikan. Tendangan – tendangan di tembok dan hentakan – hentakan kaki di lantai tidak kami gubris. Sayangnya tekad baja kami ini tidak didukung oleh emak CJ. Mama saya selalu saja datang menyelamatkan cucu tercintanya dan memberikan apa yang diminta. Tak heran usaha kami selalu gagal total.

Sudah puluhan kali kami coba memberikan pengertian pada Mama tentang akibat tindakannya pada pertumbuhan emosi Jessie. Bukannya mengerti, Mama saya malah emosi dan menyuruh kami membawa Jessie kecil ke psikiater. Repotnya ngomong ama orang tua hiks…

Well, dari beberapa artikel yang kami baca mengenai toddler tantrums (list ntar nyusul di bawah), sepertinya temper tantrum ini memang merupakan tahapan normal dalam tubuh kembang anak… hadeh…

Beberapa tips sangat berguna dan mudah diterapkan. Kadang berhasil, kadang juga tidak… tergantung tingkat kerewelan dan kemarahan. Beberapa kali Jessie berhasil dialihkan perhatiannya ke hal lain, seperti diajak nonton acara TV kesukaannya atau bahkan diberi iming – iming coklat. Hingga petang hari inipun kami masih berjuang melawan tantrum Jessie. Tadi Jessie menolak untuk gosok gigi sebelum tidur. Saya membujuknya “ Kalau Jessie tidak sikat gigi, nanti giginya jadi berlubang.” Diapun mulai menangis, merengek “ Nggak mau sikat gigi, nggak mau gigi bolong. Biar papa aja yang giginya bolong.”  Mau nggak mau ketawa juga denger jawabannya…

Yeah… sepertinya kami emang masih harus belajar lebih banyak lagi dalam menghadapi si temper tantrum.

Eniwei, further pembahasan tentang temper tantrum pada balita menyusul di blog selanjutnya ya..