Exan apa, dok?
Bengong... dokter ini ngomong bahasa planet apa pula...
Sejak hari Rabu siang Jessie badannya panas, rewel, muntah - muntah dan ( ini nih yang bikin saya takut ) ubun - ubunnya jadi agak timbul. Segera deh sorenya kami bawa Jessie ke dokter.
Dokter SPAnya bilang kalau ini demam biasa, mau flu. Diberikanlah Jessie obat penurun panas dan obat flu dengan pesan kalau sampai hari Sabtu demamnya nggak turun, Jessie harus periksa darah.
Hari Jumat demam Jessie masih tetap ada, papanya dan omanya mulai cemas. Akhirnya pagi - pagi, dibawalah Jessie ke dokter. Si dokter SPA malah marah, "saya kan sudah bilang hari Sabtu, dibawa pulang saja dulu. Tunggu sampai besok."
Pada hari Sabtu pagi, demam Jessie hilang. Mamanyapun lega. Menjelang jam 9 pagi, timbul bintik - bintik merah di kepala, muka, dan leher Jessie. Ah paling cuma biang keringat, begitu pikir saya.
Menjelang jam 10 pagi, bentolnya kian banyak... bahkan punggungnya pun mulai berbentol - bentol ( mulai panik !! ). Segera diambil keputusan untuk membawa Jessie kembali ke dokter SPA.
Menyadari kalau udah hampir jam 11 pagi, di hari Sabtu pula..jangan - jangan praktek dokter SPAnya udah tutup. Setengah ngebut ke rumah sakit tempat si dokter praktek. Ternyata benar, si dokter SPA udah pulang dan kebetulan saat itu di poliklinik RS itu tidak ada dokter SPA lain ( kian panik !! ). Kami disarankan untuk mencoba poli dokter umum. Karena lagi panik, akhirnya kami setuju saja. Ternyata poli dokter umumpun sudah tutup ( tidakkkk !!! ).
Sayapun usul pada suami untuk membawa Jessie ke UGD. Di UGD Jessiepun segera ditangani. Dokter yang menangani Jessie menjelaskan bahwa kondisi Jessie baik - baik saja, tetapi untuk amannya Jessie akan dites darah.
Sungguh tidak tega melihat bayi sekecil Jessie dibaringkan di matras, ditahan oleh 3 perawat besar - besar untuk ditusuk dan diambil darahnya. Hasil tes darah Jessie menunjukkan bahwa trombositnya turun. Dokter UGD berkata ini bukan demam berdarah karena walau trombositnya turun tetapi darah putihnya baik - baik saja. Dokter itu menyarankan supaya Jessie di-tes darah lagi di hari minggu.
Hari minggu pagi, kamipun sudah siap di UGD rumah sakit tersebut. Jessie kecil sudah menangis histeris waktu memasuki UGD. Kebetulan UGD hari itu sangat sibuk karena pasien sangat banyak, bahkan beberapa pasien terpaksa ditangani di ruang tunggu. Akhirnya Jessiepun dikirim langsung ke lab RS. Lab RS itu sungguh tidak ideal keadaannya untuk pengambilan sampel darah bayi. Tidak ada kursi berbantal / matras.
Jessiepun terpaksa saya pangku. Kakinya dipegangi oleh papanya. Dua petugas lab sibuk mengambil darahnya. Proses ini tidak berjalan lancar karena Jessie meronta - ronta dan menjerit - jerit.
Hasil darah Jessie bagus, trombositnya sudah kembali naik. Lha terus, bentol - bentol merahnya itu karena apa? Dokter UGD tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan.
Jadinya hari Senin pagi, Jessie dibawa lagi ke poliklinik RS untuk diperiksa oleh dokter SPAnya. Tidak banyak kata, Jessiepun didiagnosa terkena Exanthema Subitum, oleh beberapa ahli juga disebut Roseola infantum.
Dokter SPA menjelaskan bahwa penyakit ini walaupun menular tapi tidak berbahaya sama sekali. Sering kali salah disangka campak karena bentol - bentol merahnya mirip campak. Bedanya, pada campak bentol - bentolnya disertai panas; pada Exanthema, demam turun dahulu barulah bercak - bercak muncul.
Seperti biasa, dokter SPA ini pelit obat ( karena itu saya sreg banget ama dokter SPA ini. Dia gak gampang kasih obat. Kalaupun dikasih biasanya yang ringan. ) dan Jessiepun dipulangkan tanpa obat. Hanya disarankan untuk rajin mandi, mestinya dalam 3 hari sudah bersih bercaknya.
Ajaibnyaaaaa... sore harinya hampir semua bercaknya udah ilang. Tinggal sedikit di pipi dan leher. sigh... mungkin Jessie cuma kangen ama dokter SPAnya hehehe...
Untuk informasi lebih tentang Exanthema Subitum, klik http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/gizi+dan+kesehatan/Bayi/apa.itu.roseola.infantum/001/001/1115/36/3